Alamat
ASEEC Tower, Kampus B UNAIR. Jalan Airlangga No. 4-6, Surabaya, Jawa Timur, Surabaya, Indonesia 60286
Jam Operasional
Senin - Jumat: 08.00 - 17.00 WIB
Alamat
ASEEC Tower, Kampus B UNAIR. Jalan Airlangga No. 4-6, Surabaya, Jawa Timur, Surabaya, Indonesia 60286
Jam Operasional
Senin - Jumat: 08.00 - 17.00 WIB

ISCN News — Indonesia SDGs Center Network (ISCN) menyelenggarakan Webinar Series #6 dengan tema “Bridging Global Goals with Local Action: Peran Kolaboratif Perguruan Tinggi dan Lembaga Internasional dalam Mencapai Target SDGs” (29/11/2025). Acara dibuka oleh Presiden ISCN, Bayu Arie Fianto, Ph.D., dan dihadiri oleh pemangku kepentingan dari pemerintah, akademisi, lembaga internasional, serta masyarakat umum yang menyoroti pentingnya kolaborasi untuk mempercepat pencapaian SDGs menjelang tahun 2030.
Pungkas Bahjuri Ali, Ph.D., dari Bappenas menekankan bahwa keberhasilan SDGs bergantung pada kemampuan menerjemahkan komitmen global menjadi aksi di tingkat lokal.
“Sejak mengadopsi SDGs tahun 2015, kita dituntut untuk menerjemahkan global commitment itu menjadi actions di tingkat lokal,” ujarnya. Ia menyoroti peran perguruan tinggi dalam riset, pendampingan kebijakan, dan penyusunan RAD SDGs.
Para pembicara dari UNICEF, UBL, dan GIZ menyoroti berbagai aspek penting untuk mempercepat SDGs. Dr. Eng. Fritz Akhmad Nuzir dari Universitas Bandar Lampung menekankan bagaimana jejaring internasional, riset kampus, dan praktik global dapat memperkuat kapasitas daerah dalam pembangunan berkelanjutan. Arie Rukmantara perwakilan UNICEF memaparkan situasi global yang masih penuh tekanan bagi anak-anak serta perlunya inovasi pembiayaan SDGs di tingkat daerah.
Sementara itu, Marvel Ledo, Advisor GIZ Indonesia, menjelaskan bahwa tantangan SDGs bersifat lintas sektor dan membutuhkan kerja sama multilevel antara pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga internasional untuk menghasilkan kebijakan dan implementasi yang lebih efektif.

Melalui berbagai pemaparan tersebut, terlihat bahwa pencapaian SDGs membutuhkan kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan. Pemerintah daerah membutuhkan dukungan perguruan tinggi sebagai pusat pengetahuan dan inovasi, sementara lembaga internasional membawa pendekatan teknis, pengalaman lintas negara, serta jaringan global yang mampu mempercepat implementasi program.